Tuesday, January 16, 2018

Karyawati Berjilbab Memang Lebih Nikmat part 2



Karyawati Berjilbab Memang Lebih Nikmat part 2
“Sudahlah jangan menangis..” kataku sambil mengelus-elus pundaknya.

“Seperti kamu tahu, untuk resepsionis seperti kamu ini, dengan jilbab dan gaya kamu yang alim maka setiap customer yang datang ke perusahaan kita tidak memberikan kesan menarik bagi mereka,” tambahku

“Tapi Pak.. Saya tolong jangan dipecat Pak.. Tolong…..,” katanya sambil menyeka air matanya.

“Terus saya harus bagaimana Pak?” tanyanya bingung.

“Yach.. Ai saya bisa saja membantu kamu, tapi kamu juga harus membantu saya”

“Bantu apa Pak?”

Wah ini sih pertanyaan retoris pikirku. Aku yang duduk disebelahnya langsung meraba pahanya sambil menciumi pipinya yang masih agak basah karena air mata itu.


“Jangan Pak..” katanya sambil menghindar.

“Ya sudah kalau tidak mau dibantu!” jawabku agak kesal karena menahan nafsuku yang sudah tak tertahankan. Ai masih duduk diam terpaku sambil meremas-remas kertas tisu. Wajahnya yang dibalut jilbab krem itu terlihat bingung.

“Ya sudah Ai.. Pergi sana” aku mengusir dia. Semoga saja Lia belum pulang sehingga aku bisa menyalurkan hasratku ini. Ai masih diam. Aku kembali merengkuh pundaknya sambil menciumi pipinya. Kali ini dia tidak menghindar. Berhasil.. Aku bersorak kegirangan dalam hati.

“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Pak.. Soalnya saya sudah punya pacar,” pinta resepsionis berjilbab ini.


“Tentu saja sayang..” kataku sambil membelai kepalanya yang terbungkus jilbab, dan menariknya sehingga wajah berbalut jilbab itu tepat berada di depan wajahku.

Langsung aku cium dan kulum bibirnya yang tipis merekah itu.. Sementara tanganku telah membuka blazer dan blus putih nya sehingga pundaknya yang mulus telah terpampang didepanku. Aku ciumi pundaknya yang mulus dan tali BHnya pun aku gigiti gemas. Sementara tanganku sibuk meraba dan meremas pahanya yang putih bersih itu. Setelah sebelumnya kusingkap rok panjangnya Tak tahan aku untuk tidak menikmati buah dadanya yang membusung itu. Aku ciumi dadanya yang masih terbungkus BH-nya, dengan jilbab masih membungkus kepalanya.

“Emmhh.. Emhh” Ai mulai mengerang menahan nikmat yang mulai dia rasakan.

Tangankupun dengan terampil membuka lepas blazer dan blus putihnya sehingga dia tinggal mengenakan BH yang kelihatannya terlalu kecil untuk menampung buah dadanya yang besar itu. Aku ciumi dadanya kemudian aku turunkan cup BHnya sehingga buah dadanya mencuat keluar. Oh.. My god.. Indah sekali buah dada Ai ini. Putingnya kecil berwarna merah muda, yang sudah mengeras. Buah dadanyapun kencang dan kenyal seperti halnya buah dada gadis muda belia seperti dirinya. Langsung aku kulum dan jilat putingnya, sambil tanganku meraba pahanya sampai ke celana dalamnya.


“Ohh.. Pak.. Jangan Pak..” Ai mengerang..


Jangan? Dalam hatiku aku tertawa geli. Mulutnya berkata jangan tapi reaksi tubuhnya berkata lain. Mungkin jangan berhenti maksudnya? Tanganku sudah mengelus-elus kemaluannya yang sudah basah oleh cairan nikmatnya.

“Ayo sayang kita pindah ke sofa” ajakku.

“Jangan Pak..”

“Ayo..!!” perintahku sambil menarik tangannya.

Sebelum dia duduk, aku cium dahulu dia sambil melepas baju rok panjang dan rok dalamnya. Tampak dia cantik sekali dengan hanya berpakaian begitu: Berbalut jilbab dengan hanya mengenakan jilbab dan celana dalam saja. Apalagi buah dadanya sudah mencuat keluar dari BH hitam yang dikenakannya.

“Ayo duduk” perintahku.

Dia duduk di depanku sehingga wajahnya tepat berada di depan kemaluanku. Dengan cepat aku membuka semua pakaianku sehingga tinggal mengenakan celana dalam saja.

“Cepat cium” kataku sambil menyorongkan kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam itu padanya.

Aipun sudah tampak pasrah dan dia mulai menciumi kemaluanku. Kulihat bibir pada wajah manisnya yang terbungkus jilbab itu menciuminya selama lima menit. Tak tahan, aku suruh dia membuka celana dalamku itu sehingga kemaluanku yang sepanjang 20cm dan seukuran hampir sama dengan pergelangan tangannya melonjak keluar. Ai tampak kaget sehingga agak menjerit tertahan melihat ukuranku itu.

“Kenapa sayang”

“Ihh Pak.. Besar sekali.. Ai takut Pak..”

“Nggak apa.. Ayo diisep” perintahku.

“Ampun Pak.. Jangan Pak.. Nggak muat Pak..”

“Ayo cepat” kataku sambil meremas jilbab di kepalanya dan mendorong kemaluanku sehingga menyentuh bibirnya yg mungil menggemaskan.


<~~ BACA SEBELUMNYA                                                             BACA SELANJUTNYA DI ~~>