
Aku memang paling kesal dengan karyawanku yang belum apa-apa sudah bilang nggak bisa padahal belum mencoba. Entah dalam pekerjaan kantor sehari-hari atau dalam hal Ai ini untuk memuaskan kejantananku. Aipun membuka bibirnya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tangannyapun mulai mengocok kemaluanku sambil kadang-kadang membelai buah zakarku. Rupanya dia sudah merasa percuma saja menolak sehingga lebih baik menikmati saja aktivitas kita ini.
Kemudian dia sudah mengulum kemaluanku. Akupun berdiri berkacak pinggang didepannya, sementara dia sibuk memberikan kehangatan mulutnya pada bos besarnya ini. Kadang-kadang aku meremas kepalanya yang terbungkus jilbab dengan pin berbentuk hati berwarna merah muda sehingga menambah kecantikan jilbabnya.
“Ayo lebih dalam”, kataku sambil berkacak pinggang memberi perintah.
Tampak Ai bersusah payah mengulum kemaluanku walaupun tampaknya baru setengah yang bisa dia masukkan kemulutnya yang mungil. Akupun tak sabar, lalu aku dekap kepalanya dengan kedua tanganku, dan aku maju mundurkan kemaluanku di mulutnya. Terasa sesak tapi sangat nikmat menjalar tubuhku.
BACA JUGA Ngentot Dengan Teman Baik Berjilbab
“Hmmhh.. Mulutmu enak Ai.. Yach ayo terus hisap.. Pintar.. Good girl..”, erangku menahan nikmat duniawi.
Setelah kurang lebih 15 menit menikmati hisapan dan kuluman Ai si gadis lugu berjilbab ini, aku duduk di sofa dan memerintahkan dia untuk menaiki tubuhku. Aku sibakkan celana dalam hitamnya sehingga vaginanya yang sempit itu telah siap untuk menelan kemaluanku.
“Ahh.. Ampun Pak.. Sakit..”, erangnya ketika kemaluanku mulai menerobos bibir vaginanya.
Aku tak mempedulikan erangan minta ampun nya dan langsung menyodokkan kemaluanku sambil menggoyang-goyangkannya ke kanan dan kekiri. Masuknya agak susah sehingga setelah sedikit aku sodokkan aku goyangkan dulu, baru bisa aku sodokkan sedikit lagi ke dalam. Sementara itu mulutku sibuk menikmati buah dada belianya.
“Pak.. Ampun Pak.. Ahh..” erangannya terdengar makin keras.
Kemaluanku kini sudah 3/4 yang masuk dalam vaginanya. Kemudian aku pegang pantatnya yang sexy itu dan aku kocok keluar masuk kemaluanku dalam lubang surgawinya.
“Pak.. Sudah Pak.. Ampun Pak.. Ai hampir sampai..”
Aku semakin cepat menggenjot Ai, sampai akhirnya dia menjerit tertahan karena mulutnya menggigit tangannya sendiri. Mungkin dia malu untuk menjerit terlalu keras saat orgasme. Memang dia pada dasarnya adalah gadis yang sopan dan baik, bahkan selalu berjilbab. Aku belum puas menikmatinya, lalu aku suruh dia menungging di sofa dan aku setubuhi dia dari belakang.
“Pak.. Pak.. Jangan Pak.. Ai sudah capai Pak..” katanya sambil merintih.
Aku terus genjot dilakang sambil sesekali aku tarik ikatan jilbabnya sehingga kepalanya terdongak kebelakang, sehingga aku bisa menciumi wajahnya yang imut itu. Tanganku pun tidak ketinggalan meremas buah dadanya yang besar dan bergoyang saat aku setubuhi kemaluannya dengan gaya doggy-style itu. Sangat merangsang sekali, gadis berjilbab ini kusetubuhi dengan jilbabnya tetapi hanya tersisa BH dan celana dalam saja.
Saat aku sedang asyik menggenjot Ai.., tiba-tiba Lia masuk ruanganku. Rupanya aku lupa mengunci ruanganku tadi.
“Ada apa Lia..?” tanyaku sambil tersenyum sambil terus menyetubuhi Ai, resepsionis alim berjilbab ini.
Aipun sudah kembali terangsang dan tidak memperdulikan kehadiran Lia. Dia tetap mengerang tertahan sehingga menambah suasana mesum di ruangan itu.
“Ini Pak.. Saya perlu tanda tangan Bapak” jawab Lia sambil merengut cemburu.

